Pernyataan Visi dan Misi GRN

Pernyataan Visi dan Misi GRN

Pernyataan Visi

Mendengarkan dan memahami:

Alkitab yang tertulis adalah penting dan tepercaya, tetapi Alkitab sering menggunakan istilah "Firman Allah" dalam konteks lisan. Perhatikan khususnya di 1 Petrus 1:23-25 (BIS) dimana "Firman Allah" adalah apa yang sudah "diberitakan" kepada orang percaya. Begitu pula di 1 Tesalonika 2:13, orang di Tesalonika MENDENGAR berita itu dan menerimanya sebagai "Firman Allah" "dan memang sungguh-sungguh demikian", kata Paulus.

Adanya penekanan berulang kali mengenai pemberitaan di Alkitab menguatkan betapa pentingnya komunikasi lisan Firman Allah.

Dengan sangat spesifik, Roma 10:17 berkata bahwa "Iman timbul dari mendengarkan Firman". Tentu hal ini bukan meniadakan kemungkinan iman timbul dari membaca Firman, namun itu jelas bukan cara seperti yang diharapkan.

Hasil penelitian terkini menunjukkan bahwa sekitar 75% (atau lebih) dari penduduk dunia kebanyakan atau seluruhnya adalah "pembelajar lisan". Banyak orang yang sangat terpelajar sebenarnya lebih menyukai komunikasi yang bukan berupa cetakan, dan bahkan belajar dengan lebih baik dengan menggunakan "teknik berkomunikasi lisan" ketimbang cetakan. Pasti mereka yang tidak atau sangat kurang terpelajar adalah pembelajar lisan oleh karena kebutuhan! (Lihat keterangan lebih lanjut di kelisanan.)

Bahasa ibu:

Alkitab juga menegaskan nilai dari berkomunikasi dalam bahasa ibu. Kisah Pentakosta di Kisah Para Rasul 2 menyatakan semua orang yang berada di Yerusalem saat itu mendengarkan pemberitaan para rasul dalam bahasa mereka masing-masing. Terdaftar lebih dari selusin lokasi! Tampaknya semua yang hadir memahami bahasa Yunani, tetapi inti catatan tersebut adalah Allah tidak berpihak hanya kepada ataupun tanpa berdasar tidak menyukai kelompok atau bahasa tertentu, dan bahwa semua orang ada di dalam rencana-Nya. Tidak ada budaya yang terkecuali dari pengaruh Injil, yang lebih atau kurang alkitabiah dan saleh, dari budaya yang lainnya! Di setiap budaya, tampak "kejatuhan" manusia dan providensia Allah. Injil dapat "kerasan" di setiap budaya walaupun akan menantang atau mengubah beberapa aspek dari setiap budaya.

Kitab Wahyu juga menegaskan bahwa umat Allah mencakup orang dari "tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa" (Wahyu 5:9). Dengan adanya penekanan alkitabiah mengenai pemberitaan lisan, adalah beralasan bila berasumsi "bahasa" di Wahyu 5 maksudnya lebih kepada lisan daripada bentuk bahasa tertulis.

Komunikator lisan:

Seperti yang dikemukakan di atas, sebagian besar persentase penduduk dunia adalah komunikator lisan. Bahkan yang sangat terpelajar dan "sangat fokus pada cetakan" tetap dapat belajar dengan menggunakan teknik mengajar secara lisan. Namun kebalikannya tidaklah berlaku! Menarik untuk dicatat bahwa Yesus terpelajar, seperti semua anak laki-laki Yahudi pada masa itu, mendapat pelajaran membaca Alkitab di Sinagoge. Bagaimanapun, Yesus dengan jelas menggunakan berbagai tehnik mengajar secara lisan, ketimbang mengandalkan berbagai proses tertulis. Dengan menggunakan berbagai teknik tersebut, tak ada yang terkecuali dalam proses belajar-mengajar, baik soal biaya dasar bahan literatur, mengajar ataupun belajar; proses belajar-mengajar dapat berlangsung normal dalam konteks kehidupan sehari-hari. Semuanya ini merupakan keunggulan dari teknik-teknik mengajar secara lisan.

Injil bukanlah sekadar pengetahuan akademis yang dipelajari dengan otak. Injil adalah mempelajari sebuah kehidupan, berbagi dalam sebuah relasi (dengan Allah), dan berbagian dalam sebuah komunitas. Karena itu prinsip-prinsip dan praktek belajar secara lisan adalah paling cocok untuk mengkomunikasikan Injil.

Yang tidak memiliki Alkitab dalam bentuk apapun:

GRN bukan mengkomunikasikan pesan manusia biasa melainkan Firman Allah Yang Hidup. Tanpa firman itu, dan tanpa pengetahuan akan Yesus Kristus serta berita keselamatan, orang terpisah dari Allah dan tersesat selamanya. Kepedulian terbesar GRN ditujukan kepada mereka yang belum pernah mendapat kesempatan mendengar berita tersebut. Ini termasuk mereka yang tanpa terjemahan Alkitab dan tanpa keberadaan gereja lokal. Juga termasuk bagi kelompok-kelompok yang Alkitab tertulis atau bagiannya tersedia, namun hanya sedikit---kalau ada---yang dapat membaca atau mengerti.

Ya, ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan dalam "komunitas yang telah diinjili" namun ada banyak orang yang masih menanti kesempatan pertama mereka. Mereka yang komunitasnya kecil, yang kelompok bahasanya minoritas dan sering terabaikan merupakan prioritas terutama GRN.

Perihal Pernyataan Misi

Bermitra dengan gereja:

Gereja adalah agen misi utama Allah. Sebagai sebuah organisasi "para-church", kami tidaklah terpisah dari gereja dan pasti tidak lebih tinggi! Kami adalah bagian dari gereja, dipanggil Allah untuk membantu melayani dan memperlengkapi gereja dalam tugasnya mengemban misi Allah. Karena itu sedapat mungkin, kami berusaha untuk bermitra, menyemangati, menolong dan melengkapi gereja lokal (setempat) dan lembaga pelayanan lainnya untuk melaksanakan pekerjaan misi. Kemitraan menyatakan tubuh Kristus dan biasanya menghasilkan pelayanan yang lebih efektif.

Menyampaikan secara efektif:

Memberitakan Injil itu mudah! Menyampaikannya dengan efektif itu jauh lebih sulit. Kami mengakui bahwa faktor terpenting dalam mengkomunikasikan Injil merupakan pekerjaan Roh Kudus. Karena itu doa adalah strategi yang mendasari semua pekerjaan kami. Bagaimanapun, sebagai rekan sekerja Allah kami dipanggil untuk menggunakan semua karunia dan ketrampilan yang Allah berikan kepada kami untuk melaksanakan tugas yang hingga kini Ia tetapkan bagi kami.

Teori komunikasi dasar mengatakan bahwa komunikasi yang efektif adalah yang berorientasi pada penerima (dan bukan berorientasi pada komunikator). Ini berarti bahwa logika, argumen-argumen, konstruksi dan proses berpikir yang tampaknya efektif bagi sang komunikator MUNGKIN tidak ada dampaknya sama sekali terhadap pendengarnya! Perspektif budaya dan pandangan seseorang, pengalaman hidup dan pendidikan mereka, semuanya akan memiliki pengaruh yang sangat besar pada cara mereka memproses dan menafsir komunikasi. Karena itu isi, gaya dan banyaknya bahan yang diproduksi untuk sebuah kelompok bahasa semuanya ditujukan agar dapat menyampaikan pesan secara efektif.

Sesuai budaya:

Selanjutnya, menyampaikan secara efektif akan mencakup pemahaman mengenai cara "target budaya" itu berkomunikasi dan meneruskan informasi penting. Tidaklah cukup baik bila sekadar menerjemahkan sebuah naskah (walau satu perikop Alkitab) ke kata-kata dari bahasa lain, sekalipun itu "bisa" dalam budaya yang pertama. Konteks dan pandangan dari target grup harus dipahami dan diperhitungkan.

Salah satu kendala terbesar untuk penyampaian Injil adalah bahwa Injil dianggap "asing" karena biasanya masuk melalui orang asing dan sering dalam bentuk-bentuk budaya asing. GRN bertujuan untuk menanggulangi kendala-kendala ini dengan melakukan riset yang teliti agar pesan-pesannya cocok dan menggunakan pengguna asli bahasa ibu untuk rekaman-rekamannya. Kesesuaian budaya juga akan mempengaruhi hal-hal seperti penyusunan program, pemilihan musik dan penyajian dari hasil akhirnya.

Bahan audio dan audiovisual:

Format audio dan audiovisual tidaklah selalu menjadi alat komunikasi yang paling efektif. Contoh: seorang komunikator mungkin mampu menghadirkan atau memperkuat pesan yang diberitakan dengan lebih baik. (Ia dapat juga memperlemah!) Kendati demikian, tetap bermanfaat untuk mencatat beberapa kelebihan dari presentasi audio dan audiovisual, sebagai berikut:

  1. Direkam membuat sebuah rekaman jadi lebih "permanen" dalam hal menjaga terjadinya modifikasi dari cerita tersebut.
  2. Media tersebut tidak mengandalkan kehadiran atau "ketahanan" dari seorang pembicara "tatap muka".
  3. Pesan tersebut dapat diulangi sesering mungkin.
  4. Media tersebut dapat dipahami oleh siapa pun yang dapat mendengar. Mereka tidak perlu bisa membaca.
  5. Gambar-gambar (dalam berbagai format) dapat menolong pemahaman sekaligus juga meningkatkan daya tarik presentasinya.
  6. Media tersebut dapat digunakan tanpa kehadiran seorang utusan, yang kadang-kadang dapat menyebabkan prosesnya malah buruk (misalnya di beberapa budaya ketidaksepakatan secara publik terhadap seorang tamu tidak diperbolehkan, sehingga penduduk setempat menyatakan "setuju" dengan pesan tersebut bukan karena pengakuan melainkan karena kesopanan).
  7. Bahan itu dapat digunakan tanpa menarik perhatian di lokasi yang sensitif.
  8. Bahan itu dapat digunakan dengan volume suara yang sangat tinggi yang memungkinkan sebuah komunitas mendengarkan dan memproses informasi itu bersama-sama.
  9. Bahan-bahannya dapat disesuaikan. Sekali seorang "pengguna" mengenal bagaimana penyajiannya, mereka dapat menggunakannya dengan berbagai cara yang berbeda disesuaikan dengan pendengar atau konteks yang berbeda.
  10. Di beberapa tempat sebuah pesan yang direkam memiliki sebuah otoritas yang tidak diberikan kepada seorang pembicara "tatap muka".

Komunikasi audio dan audiovisual juga memiliki beberapa kelemahan, seperti interaksi yang terbatas dan keterbatasan kemampuan merespons secara fleksibel terhadap situasi yang berbeda-beda, namun kelebihan-kelebihannya tidak bisa diabaikan.

Dalam setiap bahasa:

Tentang hal ini telah diterangkan di atas. Ketika ada sebuah kelompok orang yang tidak memiliki bentuk penyampaian Injil yang efektif dan cocok dengan budayanya, GRN akan berusaha menyediakan bahan audio atau audiovisual, seberapa pun kecilnya grup bahasa tersebut.

Informasi lebih lanjut